Manusia adalah makhluk yang (katanya) sempurna. dengan positif negatifnya tentunya. makhluk yang digadang gadang lebih keren dari pada malaikat, bahkan sang pendahulu, nenek moyang dan sekaligus manusia pertama yang diciptakan Tuhan, yakni Nabi Adam mampu mengalahkan para malaikat dibidang ilmu pengetahuan. Saking kerennya manusia, bahkan Tuhan memerintahkan makhluk surga lain, yakni Iblis dan Malaikat untuk bersujud menghormatinya. Yang bahkan hal ini berbuntut pada pengusiran Iblis dari Surga.
Namun, manusia juga merupakan makhluk yang aneh. makhluk yang diberkahi dengan akal ini tak mampu mempersatukan sesamanya. meskipun tidak semua dapat disamakan, namun kenyataan telah berkata demikian. Perbedaan pendapat, beda sudut pandang, latar belakang, dan juga perbedaan kepentingan dapat membawanya menuju jalan yang berbeda. Perbedaan tidak hanya terwujud dalam pemikiran, namun juga sifat, penampilan, bentuk luar, bahkan bahasa dan juga kebudayaan. Begitu banyaknya perbedaan, menjadikan manusia begitu indah dengan warna warni nya. Ada laki-laki dan peremuan, tinggi pendek, besar kecil, dan banyak lagi.
Sayangnya begitu banyak manusia yang terbentuk dengan ego yang tak terbendung. Memang tidak mengherankan jika manusia memiliki ego. Bahkan dalam sejarahnya, sebelum ditemukannya teori heliosentris, yang menyatakan bahwa bumi, planet, dan juga benda langit lainnya berputar mengelilingi matahari, Manusia lebih dulu mengenal faham geosentris. Faham yang beranggapan bahwa poros tata surya adalah bumi itu sendiri. Bahkan lebih jauh lagi sebelum teori tersebut ditemukan, teori yang lebih ekstrim di anut oleh manusia, yakni egosentris. Teori yang menyatakan bahwa semua yang ada di dunia dan di langit mengelilingi manusia di manapun dia berada. Dari hal ini, maka tidak dapat dipungkiri bahwa manusia memang lahir dengan membawa sifat egoisme.
Sayangnya egoisme yang berlebih dapat menghancurkan indahnya warna warni perbedaan. Memang apa sih indahnya berbeda itu? Tentu sangat indah dan perlu dipertahankan! Jika diumpamakan dengan warna, bayangkan jika di gambar kesukaan kita, hanya memiliki 2 warna, hitam dan putih. Mungkin kesan awal kita masih menyukainya. Tapi, setelah berberapa kali melihatnya rasa kagum akan memudar dan akhirnya menghilang. Apalagi kalau jangkauannya diperluas, hanya satu warna yang ada di bumi, tentunya akan sangat monoton dan membosankan karena hanya dapat menikmati warna itu itu saja. Maka dari itu kita membutuhkan warna lain untuk menghiasi gambar serta hidup kita.
Begitu pula manusia jika hanya diciptakan dengan satu jenis, satu macam, satu sifat, atau satu budaya, mungkin pemerintah tak akan kesulitan membentuk undang-undang dan peraturan, tapi kehidupan akan terasa membosankan dan hambar tanpa tantangan.
Tetapi, banyak manusia yang terlalu terbawa egonya, yang beranggapan bahwa hanya kaum dan ras nya yang pantas ditinggikan dan memandang rendah kaum atau ras lain yang berbeda. Bahkan dalam negara dan kebudayaan yang sama, peberbedaan warna kulit sering di permasalahkan dan menjadi tombak untuk menyerang orang lain. Sebagaimana yang terjadi 25 Mei 2020 silam, peristiwa yang dialami oleh seorang warga Amerika, harus berurusan dengan polisi karena membeli rokok menggunakan uang palsu. Namum secara naas harus meninggal di lutut polisi yang mencoba menahannya. Dan yang menyebabkan polisi tersebut melakukan hal itu adalah karena dia berwarna kulit hitam. Iya! Hanya karena warna kulitnya yang berbeda dengan mayoritas orang Eropa, harus mengalami hal yang tak diinginkan oleh siapapun terjadi padanya.
Tak hanya berkutat pada peristiwa besar saja, di sekitar kita pun sering terjadi pembedaan dan pengelompokan untuk orang yang berbeda. Baik pembedaan dalam hal gaya hidup, sifat ataupun penampilan. Tapi bukan berarti semua peristiwa tersebut merupakan buntut dari sifat dan perlakuan orang lain, karena tanpa kita sadari pengelompokan terjadi karena memang diri kita yang menghendakinya. Jika kita tidak merasa percaya diri akan diri kita, maka kita telah melakukan diskriminasi pada diri kita sendiri. Dan hal itu lah yang lebih menyakitkan bagi diri kita melebihi ejekan dan cemooh orang lain.
Kita sering merasa tak cantik atau tak tampan karena berbeda dengan role model kecantikan/ketampanan yang kita tentukan sendiri. Melihat orang yang lebih tinggi dari kita, insecure langsung menghantui. Kenapa kita tidak putih, kenapa tidak tinggi? Kenapa kita tidak seperti mereka? Sekarang pertanyaannya, apakah kita harus sama dengan mereka? Apakah role model tersebut sudah menjadi patokan untuk mendapat predikat cantik/tampan? Apakah kita harus begitu agar kita sukses? Ya benar, jawabannya sebagaimana yang kita ketahui adalah “Tidak”.
Kenapa kita harus mengikuti jalan orang sedangkan kita sudah mempunyai jalan kita sendiri? Kenapa kita harus menetapkan diri kita jelek sementara orang lain menawan? Kita tidak dapat mengubah takdir yang telah ditentukan Tuhan seperti tanggal lahir, warna kulit, jenis wajah, dan lain sebagainya adalah berkah dari Tuhan. Kita tidak dapat menentukannya, karena apapun yang diciptakan Tuhan untuk kita adalah yang terbaik bagi kita. Tidak ada penciptaan-Nya yang jelek dan tak pantas karena semua ada maksud dan hikmah dalam penciptaannya.
Maka tak pantas bagi kita untuk merendahkan dan menghukumi jelek milik orang lain, apalagi milik kita sendiri. Karena siapa lagi yang akan mencintai kita jika tidak kita sendiri? Tak perlu bersedih karena tak sama. Tak apa jika kita berbeda dari yang lain, karena sejatinya, kita lah warna yang memperindah dunia dengan perbedaan kita.

Categories: Uncategorized

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.